Sabtu, 11 Juli 2015

Meneladani Mahatma Ghandi

      Siapa tak kenal Mahatma Gandhi? Salah satu tokoh besar dunia yang tak akan lekang oleh waktu. Keteguhannya pada prinsip hidup yang penuh kasih dan tanpa kekerasan mengantarkan India, negara yang sangat ia cintai, pada pintu gerbang kemerdekaan. Barangkali di dunia ini hanya Gandhi dan kelompoknya yang berhasil mengusir penjajah tanpa mengangkat senjata dan tanpa kekerasan, meskipun kerap kali menjadi sasaran amukan tentara-tentara kolonial.

      Mohandas Karamchand Gandhi lahir pada tanggal 02 Oktober 1869 di Porbandar, India bagian Barat Laut. Menikah pada usia muda (13 tahun), Gandhi dan istrinya Kasturbai dikaruniai 4 orang anak. Masa muda Gandhi banyak dihabiskan di perantauan, berpisah jauh dengan keluarganya untuk menuntut ilmu dan bekerja. Sosok Gandhi yang kita kenal sangat berkharisma lahir dari hasil tempaan hidup yang keras dan penuh liku di India, Inggris, dan Afrika Selatan. Kisah Gandhi merupakan metamorfosa kehidupan yang sangat nyata yang hanya dapat dicapai dengan keterbukaan (open minded) dan introspeksi yang terus menerus menuju kesempurnaan hidup.

      Siapa sangka, Gandhi yang mampu memimpin ribuan orang berjalan kaki sejauh 384 km pada peristiwa Salt March, ternyata di masa mudanya beliau hanyalah seorang pengacara tak laku dan sangat tidak percaya diri. Sifat pemalu dan rendah diri Gandhi kecil terbawa hingga ia dewasa. Pernah suatu kali Gandhi menangani kasus ganti rugi biasa di Bombay, dengan lutut bergetar ia berdiri di tengah ruangan, tetapi tiba-tiba kehilangan akal dan tak berhasil mengucapkan sepatah kata pun. Akhirnya, di antara tawa kolega-koleganya ia bergegas meninggalkan ruangan dan menyerahkan kasusnya kepada yang lebih berpengalaman. Gandhi jatuh dalam keterpurukan, terobsesi memberantas berbagai ketidakadlian yang banyak terjadi pada masa itu, namun kegagalan demi kegagalan ia yang alami. Setiap kali ia lari dari kegagalan sebelumnya, situasi yang sama selalu tampak berulang dengan kadar yang lebih mengancam.

      Sebagaimana tokoh-tokoh besar dunia lainnya yang selalu mampu menemukan menciptakan titik balik dalam hidup mereka,  Mohandas Karamchand Gandhi menjadikan jurang keputus-asaannya menjadi pintu harapan keberhasilan yang kelak mengantarkannya sebagai salah satu orang berpengaruh dalam peradaban dunia dan dinamai Mahatma, “Jiwa yang Hebat”. Tidak hanya berhasil mentransformasi dirinya, ia pun berhasil mengubah dunia dengan Satyagraha-nya. Gandhi selalu menjadi pengamat yang baik atas perilakunya sendiri. Ia berpendapat:bila tak mampu mengubah lingkungannya, mengapa ia tdak berusaha mengubah dirinya sendiri?
Pada akhirnya Gandhi tampil sebagai pemenang. Ia berhasil mengalahkan dirnya sendiri. Bercermin dari istrinya Kasturbai yang setia meski seringkali dikasari olehnya, Gandhi menemukan cinta yang tulus sebagai kebutuhan dasar manusia. 

      Setiap orang butuh untuk mencintai dan juga dicintai. Bahkan penjahat kelas kakap sekalipun, mencurahkan kasih sayangnya pada orang-orang terdekatnya. Kasih sayang inilah yang membuat Gandhi dan kelompoknya dapat bertahan di tengah ketidakadilan dan kekerasan yang sering mereka alami di bawah Pemerintahan Inggris sebagai penguasa India pada saat itu. Mereka membalas kekejaman penjajah dengan cinta dan rasa hormat, tanpa sedikitpun kebencian. Lantas, apakah itu berarti harus menjadi orang tak berdaya untuk menaklukkan musuh? Tentu saja tidak demikian!

      Ketika cara-cara persuasif tidak memberi hasil yang baik, barulah aksi-aksi perlawanan nirkekerasan seperti pembangkangan sipil, pemogokan, nirkerja, dll dapat diterapkan. Jikapun aksi-aksi ini kemudian memicu reaksi keras dari pihak lawan, ikhlaskan dan responslah dengan kasih. Inilah yang Gandhi sebut Satyagraha (dalam Bahasa  Sansekerta berarti berperang pada kebenaran atau kekuatan jiwa). Menurut Gandhi; kejahatan, ketidakadilan, dan kebencian hanya ada selama kita mendukungnya, mereka tidak memiliki keberadaan dengan sendirinya. Tanpa kerja sama kita, disengaja atau tanpa disengaja, ketidakadilan tidak mungkin berlanjut. Selama orang-orang menerima eksploitasi, yang mengeksploitasi dan yang tereksploitasi akan terjerat dalam ketidakadilan. Namun, saat yang tereksploitasi menolak untuk menerima hubungan itu, menolak untuk bekerja sama dengannya, dan kemudian merespons segala kekerasan yang mungkin akan mereka terima dengan cinta dan rasa hormat, niscaya mereka akan menjadi manusia merdeka. Kekerasan takkan pernah dapat mengakhiri kekerasan; yang bisa dilakukannya hanyalah memancing kekerasan yang lebih besar.

     Satyagraha bukanlah teori untuk dipelajari, tetapi diterapkan dalam kehidupan nyata. Sebab lembaran deskripsi yang sangat banyak sekalipun, tidak akan cukup menguraikan Satyagraha yang seutuhnya. Perjuangan Gandhi adalah gambaran Satyagraha yang sebenarnya. Ia menjalankannya sekaligus memperbaikinya secara terus-menerus hingga akhir hayatnya. Begitu banyak teladan yang dapat kita ambil dalam hidup Mahatma Gandhi. Jika di bawah ini dituliskan beberapa di antaranya, hanyalah sepenggal goresan di tengah lembaran-lembaran inspirasi yang Gandhi wariskan kepada kita semua melalui kisah hidupnya.

 Beberapa keteladanan hidup Mahatma Gandhi:
  1. Tumbuh besar dengan sifat pemalu dan tidak percaya diri, tetapi berhasil mengalahkan diri sendiri dan bertransformasi menjadi salah satu pemimpin besar yang paling berpengaruh di dunia;
  2. Menanggalkan kehidupannya yang telah mapan dan berbaur dengan rakyat kasta terendah di India;
  3. Keluar masuk penjara dan mengalami kekerasan fisik, tetapi sebanyak itu pula membalasnya dengan cinta, rasa hormat, dan tanpa kebencian;
  4. Memimpin ribuan orang berjalan kaki sejauh 384 km pada peristiwaSalt March. Peristiwa ini sebagai aksi penolakan rakyat India terhadap kebijakan Pemerintah Kolonial yang melarang orang India membuat garam sendiri. Aksi ini berakhir di Dandi, sebuah kota kecil di pesisir, tempat garam dari laut terhampar di atas pasir untuk diambil secara cuma-cuma;
  5. Berhasil memenangkan rasa hormat dan persahabatan dari musuh-musuhnya dengan diplomasi persuasif dan nirkekerasan;
  6. Berhasil membawa India mendapatkan kemerdekaan tanpa mengangkat senjata;
  7. Ketika seseorang yang dibutakan oleh kebencian menembakkan senjata dengan jarak yang sangat dekat ke dadanya, Gandhi tidak melawan. Saat tubuhnya perlahan roboh ke tanah, hanya mantra yang keluar dari mulutnya; Rama, Rama, Rama, yang artinya: aku memaafkanmu, aku memaafkanmu, aku memaafkanmu, hingga akhirnya ia wafat beberapa saat kemudian.
Sumber: Buku “Gandhi The Man” karya Eknath Easwaran (terjemahan Bahasa Indonesia), Penerbit Bentang Pustaka.

Universitas Kristen Indonesia BERONTAK!!!

10 July 2015 Muncul statement dari mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang merasa ditindas oleh rektorat yang otoriter. Rektor hari ini di pegang oleh Maruarar Siahaan yang merupakan mantan hakim MK.

Universitas Kristen Indonesia adalah kampus beragama dan jadi Representasi Gereja dalam menjalankan pelayanan pendidikan. Membawa pesan kekristenan dengan Motto "Melayani bukan dilayani" dibuat sebagai jargon bahwa Kampus bena-benar menjadi Lilin ditempat yang gelap. Akhir-akhir ini kampus dihangatkan dengan persoalan CUTI AKADEMIK yang diberikan kepada sekian banyak mahasiswa dikarenakan terlambat membayar Beban Variable yang telah ditetapkan oleh pihak rektorat. Dimana letak pelayanan kasih yang menjadi motto kampus ini ditengah banyak mahasiswa yang tidak mampu menunaikan kewajibannya dikarenakan ketidakmampuannya untuk memenuhinya. Apakah motto kampus yang "melayani bukan dilayani" ini hanya akan menjadi jargon kampus semata tanpa melihat kondisi mahasiswanya?? Atau mungkin kampus ini sdh disusupi kaum-kaum Kapitalis yang kelak menjadikan UKI sebagai komoditas utk mencari keuntungan bukan menjadi pelayan Gereja dalam pendidikan sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. Adapun penyataan kami adalah sebagai berikut:

1. Copot Jawaban Rektor UKI karna dianggap sebagai agen Kapitalis dan Tidak berpihak kepada kepentingan mahasiswa.

2. Kami menolak cuti paksa yang diberikan oleh Pihak Rektor UKI dikarenakan syarat untuk mendapatkan keaktifan sebagai mahasiswa adalah dengan membayar Beban Tetap dan kami sudah melaksanakannya.

3. Menolak denda pembayaran yang ditetapkan oleh pihak rektorat sebesar Rp300.000­ sungguh-sungguh tidak manusiawi mengingat mahasiswa UKI adalah golongan menengah kebawah.

4. Menolak Pemblokiran akses pembayaran menurut kami tidak masuk akal mengingat kami ingin menunaikan kewajiban kami namun tidak direspon baik oleh kampus yang katanya melayani ini.

Dengan pertimbangan diatas maka kami mengundang seluruh mahasiswa UKI untuk Mengisi "Kotak Sukarela" sebagai bentuk dukungan moril kepada rekan-­rekan kita yang tidak mampu. Apabila pernyataan kami diatas tidak diindahkan maka Semut yang terinjak ini pun bisa menggigit.

#UKIBERONTAK
#bangkit melawan atau diam tertindas!! karena diam adalah penghianatan#

Minggu, 15 Maret 2015

Cerita kehidupan (belajar dari Pensil)

[Motivasi Hidup]
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”

Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”

Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.

“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”

“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”

Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.

Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.

Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.

Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.

Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.




[Source : Like the Flowing River – Paulo Coelho]