- Tumbuh besar dengan sifat pemalu dan tidak percaya diri, tetapi berhasil mengalahkan diri sendiri dan bertransformasi menjadi salah satu pemimpin besar yang paling berpengaruh di dunia;
- Menanggalkan kehidupannya yang telah mapan dan berbaur dengan rakyat kasta terendah di India;
- Keluar masuk penjara dan mengalami kekerasan fisik, tetapi sebanyak itu pula membalasnya dengan cinta, rasa hormat, dan tanpa kebencian;
- Memimpin ribuan orang berjalan kaki sejauh 384 km pada peristiwaSalt March. Peristiwa ini sebagai aksi penolakan rakyat India terhadap kebijakan Pemerintah Kolonial yang melarang orang India membuat garam sendiri. Aksi ini berakhir di Dandi, sebuah kota kecil di pesisir, tempat garam dari laut terhampar di atas pasir untuk diambil secara cuma-cuma;
- Berhasil memenangkan rasa hormat dan persahabatan dari musuh-musuhnya dengan diplomasi persuasif dan nirkekerasan;
- Berhasil membawa India mendapatkan kemerdekaan tanpa mengangkat senjata;
- Ketika seseorang yang dibutakan oleh kebencian menembakkan senjata dengan jarak yang sangat dekat ke dadanya, Gandhi tidak melawan. Saat tubuhnya perlahan roboh ke tanah, hanya mantra yang keluar dari mulutnya; Rama, Rama, Rama, yang artinya: aku memaafkanmu, aku memaafkanmu, aku memaafkanmu, hingga akhirnya ia wafat beberapa saat kemudian.
Sabtu, 11 Juli 2015
Meneladani Mahatma Ghandi
Universitas Kristen Indonesia BERONTAK!!!
10 July 2015
Muncul statement dari mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang merasa
ditindas oleh rektorat yang otoriter. Rektor hari ini di pegang oleh Maruarar Siahaan
yang merupakan mantan hakim MK.
Universitas Kristen Indonesia adalah kampus beragama dan jadi Representasi
Gereja dalam menjalankan pelayanan pendidikan. Membawa pesan kekristenan dengan
Motto "Melayani bukan dilayani" dibuat sebagai jargon bahwa Kampus bena-benar menjadi Lilin ditempat yang gelap. Akhir-akhir ini kampus dihangatkan dengan persoalan
CUTI AKADEMIK yang diberikan kepada sekian banyak mahasiswa dikarenakan terlambat membayar
Beban Variable yang telah ditetapkan oleh pihak rektorat. Dimana
letak pelayanan kasih yang menjadi motto kampus ini ditengah banyak mahasiswa
yang tidak mampu menunaikan kewajibannya dikarenakan ketidakmampuannya
untuk memenuhinya. Apakah motto kampus yang "melayani bukan dilayani" ini hanya
akan menjadi jargon kampus semata tanpa melihat kondisi mahasiswanya?? Atau
mungkin kampus ini sdh disusupi kaum-kaum Kapitalis yang kelak menjadikan UKI
sebagai komoditas utk mencari keuntungan bukan menjadi pelayan Gereja dalam
pendidikan sesuai dengan nilai-nilai kekristenan. Adapun penyataan kami adalah sebagai berikut:
1. Copot Jawaban Rektor UKI karna dianggap sebagai agen Kapitalis dan Tidak
berpihak kepada kepentingan mahasiswa.
2. Kami menolak cuti paksa yang diberikan oleh Pihak Rektor UKI dikarenakan
syarat untuk mendapatkan keaktifan sebagai mahasiswa adalah dengan membayar
Beban Tetap dan kami sudah melaksanakannya.
3. Menolak denda pembayaran yang ditetapkan oleh pihak rektorat sebesar
Rp300.000 sungguh-sungguh tidak manusiawi mengingat mahasiswa UKI adalah golongan
menengah kebawah.
4. Menolak Pemblokiran akses pembayaran menurut kami tidak masuk akal
mengingat kami ingin menunaikan kewajiban kami namun tidak direspon baik oleh
kampus yang katanya melayani ini.
Dengan pertimbangan diatas maka kami mengundang seluruh mahasiswa UKI untuk
Mengisi "Kotak Sukarela" sebagai bentuk dukungan moril kepada rekan-rekan kita
yang tidak mampu. Apabila pernyataan kami diatas tidak diindahkan maka Semut
yang terinjak ini pun bisa menggigit.
#UKIBERONTAK
#bangkit melawan atau diam tertindas!! karena diam adalah penghianatan#
Minggu, 15 Maret 2015
Cerita kehidupan (belajar dari Pensil)
[Motivasi Hidup]
Si anak lelaki memandangi neneknya yang sedang menulis surat, lalu bertanya, “Apakah Nenek sedang menulis cerita tentang kegiatan kita? Apakah cerita ini tentang aku?”
Sang nenek berhenti menulis surat dan berkata kepada cucunya, “Nenek memang sedang menulis tentang dirimu, sebenarnya, tetapi ada yang lebih penting daripada kata – kata yang sedang Nenek tulis, yakni pensil yang Nenek gunakan. Mudah – mudahan kau menjadi seperti pensil ini, kalau kau sudah dewasa nanti.”
Si anak lelaki merasa heran, diamatinya pensil itu, kelihatannya biasa saja.
“Tapi pensil itu sama saja dengan pensil – pensil lain yang pernah kulihat!”
“Itu tergantung bagaimana kau memandang segala sesuatunya. Ada lima pokok yang penting, dan kalau kau berhasil menerapkannya, kau akan senantiasa merasa damai dalam menjalani hidupmu.”
Pertama : Kau sanggup melakukan hal – hal yang besar, tetapi jangan pernah lupa bahwa ada tangan yang membimbing setiap langkahmu. Kita menyebutnya tangan Tuhan. Dia selalu membimbing kita sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua : Sesekali Nenek mesti berhenti menulis dan meraut pensil ini. Pensil ini akan merasa sakit sedikit, tetapi sesudahnya dia menjadi jauh lebih tajam. Begitu pula denganmu, kau harus belajar menanggung beberapa penderitaan dan kesedihan, sebab penderitaan dan kesedihan akan menjadikanmu orang yang lebih baik.
Ketiga : Pensil ini tidak keberatan kalau kita menggunakan penghapus untuk menghapus kesalahan – kesalahan yang kita buat. Ini berarti, tidak apa – apa kalau kita memperbaiki sesuatu yang pernah kita lakukan. Kita jadi tetap berada di jalan yang benar untuk menuju keadilan.
Keempat : Yang paling penting pada sebatang pensil bukanlah bagian luarnya yang dari kayu, melainkan bahan grafit di dalamnya. Jadi, perhatikan selalu apa yang sedang berlangsung di dalam dirimu.
Dan yang Kelima : Pensil ini selalu meninggalkan bekas. Begitu pula apa yang kau lakukan. Kau harus tahu bahwa segala sesuatu yang kau lakukan dalam hidupmu akan meninggalkan bekas, maka berusahalah untuk menyadari hal tersebut dalam setiap tindakanmu.
[Source : Like the Flowing River – Paulo Coelho]
